Berita erupsi beberapa gunung di Indonesia saat ini menjadi berita yang sangat mengkhawatirkan. Berbagai laporan berseliweran masuk ke media sosial, bak runtutan satu gunung meletus yang lain ikut bersautan meletus. Salah satunya Gunung Anak Krakatau. Maka dari itu, waspada abu vulkanik yang keluar dari aktivitas erupsi tersebut, meski tampaknya seperti debu polusi biasa tapi di dalamnya mengandung banyak logam berat dan gas yang berbahaya untuk kesehatan tubuh terutama pernafasan dan mata. Meski letusan Gunung Anak Krakatau ini terbilang cukup jauh dari pemukiman padat penduduk karena letaknya berada di tengah lautan, tetapi dampaknya bisa sampai ke seluruh daratan.
Bahaya Abu Vulkanik Bukan Sekadar Debu
Sayangnya masih banyak yang menganggap abu vulkanik ini hanyalah debu biasa yang terbawa angin kemudian bisa dihilangkan secara langsung. Padahal, abu vulkanik ini terdiri dari pecahan batuan, mineral, dan kaca gunung aoi berukuran kurang dari 2 milimeter yang terlempar ke udara saat letusan terjadi. Abu Vulkanik juga faktanya tidak larut dalam air dan bersifar keras dan kasar serta mampu terbawa angin hingga ribuan kilometer dari titik erupsi.
Apa Saja Kandungan Ber-Bahaya Abu Vulkanik
- Silikon (SiO2) : Komponen paling dominan umumnya berkisar 45-75%
- Aluminium dan Besi : Kandungannya mencapai 8-12% dan 4-6%
- Kalsium, Magnesium, dan Kalium
- Logam Berat : Pb, Cd, As
- Senyawa Asam : lapisan asam sulfat, dan asam klorida yang menyelimuti permukaan partikel abu
- Gas Vulkanik Pengiring : SO2, H2S, NO2, CO
Kenapa bisa Kandungan Abu Berbeda di Setiap Gunung?
Karakter abu vulkanik setiap kandungan di dalamnya bisa saja berbeda karena kadar silika di dalamnya yang juga berdbeda, hal ini memengaruhi tingkat kekentalan dan keeksplosifan letusan gunung.
- Magma Basaltik (Silika rendah, 35-55%) abu cenderung berwarna gelap dan tinggi zat besi dan magnesium, berarti energi letusan relatif rendah.
- Magma Andesitik/Dasit (Silika Menengah, 55-69%) paling sering terjadi di Indonesia karena posisi Indonesia sebagai zona subduksi
- Magma Riolitik (Silika tinggi, di atas 69%), menghasilkan letusan paling besar dan eksplosif dengan magma sangat kental
Kenapa Abu Vulkanik Bisa Berbahaya Bagi Kesehatan
Bahaya abu vulkanik bukan karena racun saja, melainkan karena karakter dan fisiknya yang abrasif dan ukurannya yang sangat halus :
- Ukuran partikel menentukan risiko, partikel di bawah 10 mikro (PM10) mampu masuk ke saluran napas bawah sementara partikel di bawah 4 mikron disebut fraksi respirable yang bisa menembu hingga ke alvelous paru-paru
- Risiko jangka panjang terkait kandungan silika kristalin masih menjadi perhatian untuk penyakit paru silikosis
Langkah Waspada yang Bisa Dilakukan
Berikut beberapa langkah mitigasi yang bisa dilakukan oleh masyarakat dan pekerja yang masih beraktivitas di area terdampak untuk mengurangi resiko paparan :
- Gunakan masker yang bisa menyaring partikel berukuran mikroskopis.
- Gunakan kacamata pelindung tertutup untuk mengurangi risiko iritasi dan goresan pada mata.
- Tutup rapat penampungan air bersih agar tidak tercemar abu
- Bersihkan permukaan atap dan talang air secara berkala dari timbunan abu.
- Segera bilas mata, wajah, dan kulit dengan air bersih dan hindari mengucek mata.
Mungkin ini Cara Alam Melakukan Keseimbangan Dirinya
Meskipun bagi manusia ini adalah sebuah bencana tapi mungkin ini salah satu cara alam memperbaiki apa-apa yang sudah hilang, sudah rusak agar bisa tumbuh kembali dalam bentuk yang lebih baik.
Kandungan abu vulkanik yang ada mampu menyuburkan tanah karena ada kalsium, magnesium, dan kalium yang berfungsi sebagai hara alami, dan menjadikan tanah vulkanik ini lebih subur dan terurai kembali ke tanah seperti pupuk alami. Dan juga menambah kandungan zat besi dan mineral untuk pertumbuhan fitoplankton di perairan.