(m)Bediding; Musim Kemarau Kering, Apa Yang Ada Dalam Udara Bediding


Surabaya – Fenomena bediding, dengan ciri khas suhu udara yang dingin menusuk di pagi hari, kembali menyapa sebagian besar wilayah Indonesia saat musim kemarau mencapai puncaknya. Seringkali, udara dingin ini diidentikkan dengan kesegaran. Apa sebenarnya yang ada di dalam udara di fenomena bediding?


Partikulat Halus (PM2.5 & PM10): Ancaman Tak Kasat Mata

Salah satu hal paling terasa adalah potensi peningkatan konsentrasi partikulat halus (PM2.5 dan PM10) di udara selama periode bediding. Hal ini bisa dideteksi menggunakan alat Air Quality Monitor dan High Volume Air Sampler (HVAS) yang sangat sensitif untuk mengukur keberadaan partikel-partikel mikroskopis ini.

Mengapa ini terjadi?

  • Udara Kering: Minimnya curah hujan dan tingkat kelembaban yang sangat rendah membuat partikel debu, baik dari aktivitas alami maupun antropogenik, lebih mudah melayang di udara dan sulit untuk mengendap.
  • Sumber Emisi: Di daerah pedesaan, pembakaran lahan pertanian (open burning) seringkali terjadi, menambah beban partikulat di atmosfer. Sementara di perkotaan, emisi kendaraan bermotor dan industri menjadi penyumbang utama.
  • Inversi Termal: Saat bediding, sering terjadi inversi termal, di mana lapisan udara dingin terperangkap di bawah lapisan udara hangat. Kondisi ini membuat polutan, termasuk partikulat, tidak dapat naik dan menyebar, sehingga terkonsentrasi di dekat permukaan tanah.

Data menunjukkan bahwa di beberapa lokasi, terutama di pagi hari, konsentrasi PM2.5 dan PM10 bisa saja mencapai angka yang memerlukan perhatian, berpotensi memengaruhi kualitas udara yang kita hirup.


Gas Beracun: Pemantauan Karbon Monoksida, Sulfur Dioksida, dan Nitrogen Oksida

Selain partikulat, tim kami juga memantau konsentrasi gas-gas berbahaya menggunakan Gas Analyzer multi-parameter dan Gas Chromatograph (GC). Gas-gas seperti Karbon Monoksida (CO), Sulfur Dioksida (SO2), dan Nitrogen Oksida (NOx) adalah indikator penting kualitas udara, terutama di area dengan aktivitas industri atau lalu lintas tinggi.

Meskipun konsentrasi gas ini sangat tergantung pada sumber emisi lokal, fenomena inversi termal selama bediding dapat memperburuk kondisi dengan memerangkap gas-gas ini di dekat permukaan bumi. Hal ini berpotensi meningkatkan paparan terhadap manusia dan lingkungan. Kami juga memantau Ozon Permukaan (Ground-level Ozone), yang dapat terbentuk dari reaksi polutan lain di bawah sinar matahari dan berpotensi iritatif bagi sistem pernapasan.


Kelembaban dan Suhu Udara: Pemicu Utama Kondisi Atmosfer

Karakteristik paling kentara dari bediding adalah suhu udara yang sangat dingin dan kelembaban yang rendah. Data dari Stasiun Meteorologi Portabel kami mengkonfirmasi hal ini. Di pagi hari, suhu bisa turun drastis, bahkan mendekati titik beku di dataran tinggi, sementara kelembaban relatif (Relative Humidity/RH) bisa sangat rendah, seringkali di bawah 60%.

Kelembaban rendah ini tidak hanya menyebabkan kulit dan bibir kering, tetapi juga berperan dalam dinamika polutan. Udara yang sangat kering mempercepat penguapan, yang di satu sisi mengurangi kelembaban di tanah, tetapi di sisi lain juga dapat membuat partikel debu lebih mudah terangkat ke atmosfer.


Potensi Bioaerosol: Spora Jamur dan Serbuk Sari

Pada kondisi udara kering dan berangin saat bediding, potensi penyebaran spora jamur dan serbuk sari dapat meningkat. Bagi individu yang sensitif, peningkatan konsentrasi alergen ini dapat memicu atau memperparah gejala alergi dan gangguan pernapasan. Ini adalah aspek kualitas udara yang sering luput dari perhatian, namun sangat relevan bagi kesehatan masyarakat.


Peningkatan konsentrasi partikulat, potensi gas beracun yang terperangkap, serta kehadiran bioaerosol, adalah beberapa hal yang perlu kita waspadai.

  1. Pemantauan Berkelanjutan: Peningkatan pemantauan kualitas udara di wilayah-wilayah yang rentan terhadap dampak bediding.
  2. Edukasi Masyarakat: Menginformasikan masyarakat tentang potensi dampak kualitas udara dan cara melindungi diri, terutama bagi kelompok rentan (anak-anak, lansia, penderita ISPA/alergi).
  3. Pengurangan Sumber Emisi: Mendorong praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan dan pengurangan emisi dari sektor transportasi dan industri.

Kami di [Nama Lab Anda] berkomitmen untuk terus melakukan penelitian dan menyediakan data akurat demi mendukung lingkungan yang lebih sehat dan aman bagi kita semua.

Share this post

Scroll to Top